“TOPENG KATA-KATA” PANSUS CENTURY

“Hormat terhadap kata merupakan hokum pertama yang menjadikan seseorang matang, baik secara intelektual, emosional, maupun moral” (Triyono Lukmantoro)

Apa jadinya bila manusia sudah tidak lagi menghormati kata-kata? Apa jadinya bila kata-kata sudah dilecehkan menjadi instrumen cacian dan makian yang bisa menggerus kejernihan argumentasi? Apa jadinya bila seseorang menggunakan kata-kata hanya sekedar untuk meluapkan ekspresi kemarahan atau mungkin sebagai tipu daya terhadap orang lain sehingga kata-kata menjadi topeng yang dibalut dengan eufemisme[1] dan diseufemisme[2]?

Pertanyaan di atas mungkin cocok bila ditujukan pada situasi rapat Panitia Khusus Hak Angket Bank Century pada Rabu (6/1) silam. Perdebatan demi perdebatan pun terjadi di sana. Para saksi yang notabene adalah pejabat tinggi Negara seakan-akan hanya menjadi obyek cacian di mana mereka dilumuri pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan. Bahkan  tidak segan-segan beberapa anggota Pansus DPR mengolah kata-kata dengan nada berbicara yang tinggi serta intonasi yang terkesan penuh gertakan. Hal yang lebih buruk lagi, di antara para anggota Pansus pun terlibat saling adu mulut, seperti yang terjadi pada perdebatan antara Ruhut Sitompul yang berasal dari Fraksi Partai Demokrat dengan Gayus Lambuun dari Fraksi PDIP. Bahkan, secara terbuka Ruhut menyampaikan kata-kata kasar kepada wakil ketua panitia angket Gayus Lambuun.

Persitegangan itu terjadi kala Ruhut meminta agar pimpinan sidang memberlakukan waktu bertanya secara adil. “waktu bertanya yang digunakan anggota Fraksi PDIP sudah terlalu lama agar dibatasi,” ungkap Ruhut yang bergaya bak pengawas Pansus. Pernyataan Ruhut tidak diindahkan oleh Gayus selaku pimpinan sidang. Ruhut pun menimpali kata-kata kasar yang kemudian menyulut perdebatan di antara keduanya. Selaku pimpinan sidang, Gayus meminta agar Ruhut bersikap tertib sehingga sidang berjalan lancar. Namun, Ruhut bersikeras mengatakan kalau Gayus sudah marah pada dirinya sejak Selasa (5/1) lalu. Bahkan, Ruhut juga menyinggung gelar profesor yang dimiliki Gayus. “Kamu profesor, saya bukan profesor, tapi jangan marah-marah,” kata Ruhut. Gayus pun meminta Ruhut agar tidak menyinggung gelar profesor dalam forum rapat panitia angket. “Anda jangan kurang ajar menyebut profesor seperti itu,” kata Gayus. Tak berselang lama, seorang anggota panitia angket lainnya meminta agar perdebatan segera diakhiri. Gayus juga meminta agar Fraksi Partai Demokrat mengingatkan Ruhut karena dinilai sering “mengganggu” proses sidang. Pernyataan Gayus menyulut emosi Ruhut. “Anda jangan mengatur-atur saya. Kita di sini berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.” Gayus yang masih kesal kepada Ruhut dan merasa postur tubuhnya lebih tinggi daripada postur tubuh Ruhut mengatakan, “Siapa bilang sama tinggi, aku lebih tinggi dari kau”. Ruhut pun membentak Gayus, “Diam kau!”, “Kau yang diam!” kata Gayus menimpali. Di tengah persitegangan itu, seorang anggota Panitia Angket lainnya memberi celetukan, “Suara siapa itu, suara setannya”.

Dari dialog perdebatan tersebut, muncul beberapa kata yang tidak pantas diujarkan secara terbuka di depan publik. Apalagi menurut salah seorang pembicara yang notabene adalah anggota Pansus Century mengatakan dalam diskusi yang bertema “Meneropong Masa Depan Kasus Century, Akankah Berujung Pemakzulan?” (12/2) di Aula Perpustakaan UNJ bahwa kinerja Panitia Angket Century merupakan bentuk dari ketaatan publik bukan ketaatan politik. Namun jika dicermati lebih seksama, bagian mana yang merupakan ketaatan publik?

Triyono Lukmantoro dalam artikelnya yang berjudul “Demokrasi Tak Hormat Kata” mengatakan bahwa fenomena sidang Pansus Century boleh saja diangap sebagai sebuah fragmen dalam teater politik tetapi capaian yang mampu direngkuh tidak lebih dari retorika intrik yang sama sekali tidak mendidik. Bahkan, menghancurkan makna substansial Demokrasi itu sendiri. Kata “tidak mendidik” yang diungkapkan Triyono mengindikasikan bahwa tontonan sidang Pansus Century yang dapat diakses oleh kalangan siapa saja, baik pelajar, ibu rumah tangga, pegawai, dan sebagainya mencerminkan sikap kurang mendidik. Celotehan-celotehan kasar pun berhamburan manakala seorang anak kecil di pangkuan ibunya termangu menyaksikan sidang tersebut di layar kaca televisi.

Sejarah Politik Bahasa

Menilik ke arah pemerintahan Orde Lama, kosa kata berjiwa semangat “revolusi” memasyarakat, seperti Indoktrinasi, Kontra Revolusi (kontras), Nasakom (Nasional, Agama, dan Komunis), Nekolin (Neokolonialisme), dan sebagainya. Kemudian di era pemerintahan Orde Baru, presiden Soeharto beserta jajarannya mengupayakan penghalusan dalam berbahasa, misalnya saja “kelaparan” diistilahkan menjadi “rawan pangan”, “ditangkap” menjadi “diamankan”, dan “penjara” menjadi “lembaga pemasyarakatan”. Kosa kata era Orde Baru lebih menekankan pada eufemisme/kramanisasi sehingga baku hantam pun jarang terjadi di antara masyarakat. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa kesantunan atau pengkramanisasian era Soeharto boleh saja dianggap sebagai upaya menutupi kediktatoran pemerintahannya.

Berlanjut ke era-98 di mana reformasi terjadi. Di sini ada 2 perubahan drastis jika dibandingkan dengan era Orde Baru, yakni: pertama, pemerintahan tidak lagi menggunakan bahasa sebagai sarana kendali untuk mempertahankan kekuasaanya, sebaliknya pers dan masyarakat diberi kebebasan untuk mengutarakan apa saja. Kedua, cara kramanisasi berubah 180 derajat menjadi cara berbahasa yang lugas, objektif, atau sebagaimana adanya. Bahkan cenderung kea rah yang amat vulgar sehingga terkesan abhwa tata karma/sopan santun berbahasa sudah tidak lagi dipedulikan.[3]

Pada era SBY jilid 2, sama halnya seperti era reformasi di mana muncul para pakar, pengamat, dan pemerhati dari berbagai bidang yang bebas berbicara di mana saja, kapan saja, dan dengan cara apa saja. Di samping itu, perdebatan anggota Pansus Century serta aksi-aksi teatrikal para demonstran yang menggunakan “kerbau” sebagai lambang pemerintah juga kerap terjadi.

Bagaimana dengan Situasi Pendidikan Berbahasa di Indonesia?

Seorang guru bahasa Indonesia pastilah mengajarkan bahwa kita harus menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. “Baik” di sini berarti sesuai dengan konteksnya baik situasi, waktu, maupun tempat saat komunikasi berlangsung, sedangkan “benar” berarti kata-kata yang digunakan sesuai dengan tata bahasa yang berlaku. Namun jika dirunut pada situasi nyata, tidak jarang kita dengar kata-kata terlambat, macet, kesiangan, malas, bodoh, kurang ajar, jangan terlambat!, jangan mencontek!, jangan keluar kelas! Di dalam kegiatan belajar mengajar.

Sebenarnya tidak ada masalah pada kata-kata yang dilontarkan tersebut, tetapi yang menjadi permasalahan di sini adalah siapa, di mana, kapan, dan untuk apa kata-kata itu dituturkan. Bahkan Sam Muckhar, dkk (1997:3.2) mengatakan bahwa bahasa tidak selalu berfungsi gramatikal tetapi juga bisa berfungsi pragmatic. Artinya, bahasa dapat melahirkan berbagai tindakan yang disebut tindakan berbahasa.

Jika dikaitkan dengan pernyataan Ruhut, kata-kata yang dilontarkan Ruhut menimbulkan aksi dari siGayus, dan sebaliknya pernyataan Gayus menimbulkan ekspresi kemarahan pada diri Ruhut. Situasi perpolitikan bahasa yang kerap terjadi saat ini tentu tidak dipungkiri dipengaruhi oleh situasi pendidikan berbahasa para politisi tersebut. Jika guru–tidak hanya guru bahasa Indonesia saja—berkenan memberikan teladan bahasa yang baik kepada murid-muridnya serta pembinaan bahasa dari orang tua juga berjalan baik, tidak dipungkiri lagi situasi kevulgaran kata-kata bisa diminimalisir.

Bukankah Indonesia terkenal dengan tata kramanya?


[1] Eufemisme lebih menekankan pada kesantunan palsu untuk memberikan sanjungan yang tidak perlu.

[2] Diseufemisme lebih memberikan penekanan pada kevulgaran berbahasa untuk merontokkan martabat seseorang.

[3] Tiara Bahasa-Wacana Perkembangan Bahasa Indonesia HPBI. Vol 1 No. 1 September 2002

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s