KEKUATAN ‘KATA-KATA’ DALAM PENDIDIKAN

Nasihat yang baik adalah teladan yang baik. Bahasa yang baik adalah kunci teladan yang baik. (Dwie)

Seorang guru berkata kepada muridnya, “Kenapa kamu terlambat, Tino?!” “Macet, Bu!” Jawab murid itu dengan entengnya. “Kenapa kamu bisa terkena macet?!” Tanya guru itu lagi dengan mengeraskan suaranya. “Mmh … anu … Bu, saya kes … kesiangan.” Jawab murid itu agak ragu-ragu mencari alasan. “Dasar malas! Pasti kamu semalam bergadang kan sehingga kamu bangun kesiangan?!” “Ng … nggak Bu, saya nggak bergadang kok. Semalam ibu saya sakit.” Jawab murid itu mengelak tudingan gurunya. “Bohong kamu! Jangan cari alasan, saya sudah tahu tabiat kamu dari dulu, buktinya PR kemarin, tidak kamu kerjakan kan?” “Sudah Bu, tapi buku saya ketinggalan.” Jawab murid tersebut dengan malu-malu. “Brengsek kamu! Sudah kamu keluar! Tidak usah ikut pelajaran Ibu. Sudah datang telat, tidak bawa buku PR lagi. Bikin kesal Ibu saja!”

Sepenggal kisah tersebut bukanlah rekayasa fiktif belaka. Peristiwa seperti kisah di atas kerapkali terjadi di lingkungan sekolah negeri ini. Terlambat, macet, kesiangan itulah alasan yang sering terdengar dari mulut siswa, sedangkan malas, bodoh, brengsek, kurang ajar, dan bentuk kata perintah seringkali terdengar dari ucapan sang guru. Memang tidak ada yang salah dalam pemakaian kata-kata tersebut. Akan tetapi, sangatlah tidak etis didengar jika kata-kata tersebut dilontarkan dari sang guru kepada murid. Bentuk kalimat perintah yang sering terdengar biasanya tanpa diiringi kata tolong. Misalnya, “kerjakan soal di buku paket!” Atau kata “jangan” juga

kerap terdengar di telinga siswa. Misalnya, “Jangan terlambat!, Jangan mencontek!, Jangan keluar kelas!”            Kata mengandung unsur magis. Mengapa? Karena melalui kata-kata, seseorang dapat mengungkapkan perasaan dan pikirannya di samping diwujudkan dengan bahasa nonverbal. Akan tetapi, akan lebih indah dan santun jika kata-kata dikemas dengan tuturan yang baik. Kata-kata sesungguhnya mencerminkan kepribadian seseorang.

Mengutip pendapat Sam Muchtar, dkk (1997:3.2) bahwa bahasa tidak selalu berfungsi gramatikal tetapi juga bisa berfungsi pragmatik. Artinya, bahasa dapat melahirkan berbagai tindakan, itulah yang disebut tindakan berbahasa. Meskipun tidak menggunakan kalimat perintah, dengan bahasa pragmatis seseorang dapat meminta orang lain melakukan suatu perbuatan. Di samping itu, dengan bahasa pragmatis kalimat perintah dapat disandingkan dengan bentuk kalimat lain, kalimat berita atau kalimat tanya misalnya. Coba bandingkan, lebih etis dan santun mana “Bolehkah saya duduk di sini?” atau “Minggir! Saya mau duduk, jangan halangi saya!”

Menurut pandangan penulis, bukanlah kata-katanya yang bermasalah tapi yang menjadi permasalahan di sini adalah siapa, di mana, kapan, dan untuk siapa kata-kata itu dituturkan. Terkait dengan dunia pendidikan, guru sebagai intelektual transformatif menurut Lodewyk F. Paat seharusnya bukan sebagai tukang atau orang yang serba ahli, melainkan sebagai pemikir yang kreatif dan imajinatif. Pemikir yang kreatif selalu memikirkan kata-kata yang akan dituturkannya. Pemikir yang kreatif juga akan memilih kata-kata yang dapat membangun pemikiran kritis siswa.

Pengajaran yang mematikan kreativitas siswa dan dibumbui dengan kata-kata perintah tanpa menggunakan pendekatan bahasa pragmatik tentunya membuat siswa terkekang kebebasannya. Seolah-olah siswa dianggap/dijadikan robot yang harus menurut apa kata guru. Akhirnya, siswa lebih memilih “diperintah” ketimbang membuat inisiatif sendiri. Lebih parah lagi, budaya malas, mencontek dan sumber pelajaran yang berkutat pada kata-kata guru, modul/buku paket pun tak terelakkan menjadi permasalahan yang mematikan kesadaran siswa untuk berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan imajinatif.

Oleh sebab itu, perlu dibangun kekuatan kata-kata guru melalui pendekatan pragmatis, sehingga dapat melahirkan tindakan siswa yang lebih kritis, kreatif, dan imajinatif. Melalui kata-kata pragmatis, guru tidak perlu meminta siswa dengan kalimat perintah, tapi juga bisa dengan kalimat tanya atau kalimat berita, sehingga siswa pun dapat terlatih menafsirkan kata-kata sesuai dengan konteksnya. Dengan terbiasa menafsirkan kata-kata sesuai dengan konteks, maka secara tidak langsung tumbuhlah kesantunan berbahasa siswa. Di samping itu, kegiatan belajar dengan pendekatan pragmatis juga merupakan salah satu langkah terbaik karena dapat disesuaikan antara materi pembelajaran dengan konteksnya. Misalnya, dengan melakukan pengamatan langsung. Oleh sebab itu, pendekatan pragmatis baik dalam bentuk KBM maupun berbahasa memanglah langkah terbaiik membangun suasana belajar yang kreatif dan inovatif.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke KEKUATAN ‘KATA-KATA’ DALAM PENDIDIKAN

  1. edi berkata:

    Suatu alasan yang sudah membudaya di zaman sekarang…..terlambat di karenakan kesiangan,macet, atau apalah…..itu alasannya….namun tutur bahasa penyampainnya antara guru dengan murid dengan kata “kurang ajar”…..itu juga merupakan contoh brengsek,kurang aja, atau apalah itu juga tidak mencermin cara penyampaian yang kurang baik……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s