Televisi: Guru Baru Bagi Anak

Sebagaimana Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepada kalian, kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul di antara kalian yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kalian dan menyucikan kalian dan mengajarkan kepada kalian Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kalian apa yang belum kamu ketahui. (Al Baqarah: 151)

Ayat tersebut merupakan jawaban atas doa Ibrahim dan Ismail sekaligus peringatan terhadap pewaris-pewaris Ka’bah yang membanggakan Ibrahim, tetapi meninggalkan jalannya. Terutusnya Muhammad SAW sebagai pembawa risalah yang mengajari kaum buta huruf untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, menyucikan diri dari dosa-dosa dan perilaku jahili serta mempelajari Kitab Allah dan periteladan Rasulullah untuk menjadi kemuliaan bagi mereka merupakan jawaban bagi doa Ibrahim dan Ismail. Tiga kata yang tertuang dalam ayat tersebut, yaitu membacakan, menyucikan, dan mengajarkan merupakan kunci realisasi dari Tarbiyah yang menyejarah, yaitu Pendidikan. “Iqra’ bismirobbikalladzii kholaq (Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan)” itulah firman Allah yang pertama kali didengungkan ketika Muhammad SAW diutus sebagai pembawa risalah. Begitu mulianya kata “Pendidikan”. Sampai-sampai Allah SWT menurunkan ayat pertama kali kepada Rasulullah SAW mengenai pendidikan.

Sebagaimana tertuang dalam Q.S Al Baqarah:151 bahwa pendidikan dapat menyucikan diri manusia dari perilaku jahili dan perbuatan dosa karena pendidikan dapat membentuk watak dan kepribadian manusia. Tidak hanya itu, pendidikan juga dapat mengembangkan keterampilan atau life skill manusia. Hal itu dijelaskan dalam pasal 3 UU No.20/2003 bahwa pendidikan (nasional) berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dapat diartikan, pendidikan tidak hanya dapat membentuk manusia yang cerdas, tetapi juga berakhlak.

Namun, dewasa ini pendidikan di Indonesia belum dapat sepenuhnya mengembangkan watak atau akhlak peserta didik. Hal itu terlihat dari adanya ketimpangan antara IPTEK dan IMTAQ, antara kemajuan teknologi dan perkembangan akhlak. Kemajuan teknologi telah memudahkan manusia mendapatkan informasi secara akurat, televisi misalnya. Dengan desain dan program acara yang menarik, televisi tidak hanya memberikan informasi dan hiburan, tetapi juga telah “menyihir” manusia untuk melakukan sesuatu, bahkan dianggap Guru Baru Bagi Anak.

Berjam-jam lamanya sang anak berada di depan layar kaca, sesekali ia tertawa, bahkan sesekali pula ia meniru apa yang dikatakan tokoh-tokoh di dalamnya. Tiruan ucapan maupun perilaku anak tanpa diiringi pengawasan dan tindakan selektif orang tua merupakan kunci masalah yang akan menyeret anak menjadi generasi yang berakhlak jahili. Naudzubillah…

Beredarnya film, sinetron, video musik, drama, dan lain sebagainya yang dibalut dengan kebejatan moral, seperti pembunuhan, pemerkosaan, pornografi tentu saja sedikit atau banyak akan ditiru oleh masyarakat, terutama kalangan anak-anak. Bahkan, berita-berita yang seharusnya memberikan informasi yang mendidik, kini telah menjelma menjadi program yang menayangkan berbagai tindakan kriminal, bahkan tanpa disensor, pemirsa dapat leluasa menyaksikan bagaimana si tersangka membunuh, memperkosa, bahkan merampok si korban.

Di sisi lain, kini muncul tayangan-tayangan yang menyaksikan adegan percekcokan antara tokoh A dan tokoh B yang tentunya dibalut dengan kata-kata kasar dan makian (seperti pertikaian Ruhut dan Gayus dalam Pansus Century). Televisi pun telah menyihir anak menjadi dewasa lebih cepat. Bukan berarti matang secara harfiah, tetapi anak di usia dini telah mengenal arti cinta kepada lawan  jenis. Tidak hanya mempengaruhi pemikiran dan ucapan anak, televisi berpengaruh pula pada perilaku. Munculnya budaya malas dan tidak disiplin terhadap waktu menjadi dampak yang cukup serius. Akhirnya, anak melalaikan tugas dan kewajibannya terutama untuk beribadah atau shalat. Hal itu tentunya merupakan pekerjaan rumah yang berat bagi orang tua dan pendidik untuk menyikapi peran televisi terhadap perkembangan akhlak anak.

Sebenarnya, tidak ada yang perlu ditakuti dari munculnya tayangan televisi. Bahkan, televisi dapat pula dijadikan media pendidikan yang menarik bagi anak dan dapat memberikan keteladanan dari cerita-cerita yang disajikan. Undang-undang No.  24 tahun 1997, BAB II pasal 4, telah menyebutkan bahwa penyiaran bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan sikap mental masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, dan membangun masyarakat adil dan makmur. Di pasal 5, UU penyiran No. 24 tahun 1997 juga menegaskan bahwa penyiaran berfungsi sebagai media informasi dan penerangan, pendidikan dan hiburan yang memperkuat ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya serta pertahanan dan keamanan.

Terkait dengan kemampuan televisi sebagai alat penyiaran yang dapat menumbuh-kembangkan sikap mental masyarakat dan memperkuat segala bidang, terutama sosial budaya, sudah selayaknyalah para produser, sutradara, dan pihak-pihak terkait dapat menyajikan program-program yang menarik sekaligus mendidik. Tayangan kebudayaan, misalnya tidak hanya memperkenalkan berbagai budaya Indonesia kepada anak tetapi juga dapat mendorong anak untuk mencintai dan melestarikan warisan bangsa tersebut.

Orang tua juga sebaiknya meluangkan waktu untuk mendampingi sang buah hati menyaksikan program-program yang sedang disaksikannya dengan cara:  pertama, memilih program acara televisi yang bermanfaat bagi keluarga, terutama untuk anak; kedua, menentukan penggunaan televisi untuk mendapatkan informasi penting atau cerita-cerita yang memberikan keteladanan; ketiga, hindari sang buah hati dari kecanduan menonton televisi dengan membatasi waktu menonton televisi dan prioritaskan pekerjaan atau kewajiban yang harus didahulukan, seperti shalat; dan keempat, menentukan jenis tayangan televisi, apakah tayangan yang sedang disaksikan untuk anak atau untuk kalangan dewasa.

Selain orang tua, kita sebagai calon pendidik—setidaknya pendidik bagi putra-putri kita kelak, dapat memperhatikan perkembangan tayangan televisi saat ini. Apakah program televisi saat ini lebih banyak mencerdaskan atau membodohi? Kalaupun kita tidak bisa menjaga adik-adik putra-putri di sekitar kita, setidaknya kita bisa menjaga diri dari tayangan televisi yang berefek negatif. Jangan sampai kita sendiri tidak sadar menunda waktu shalat dikarenakan tayangan televisi yang kita sukai. Na’udzubillah …

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s