Dilematika Kelulusan UN

Euphoria pelajar Indonesia setelah menghadapi UN begitu ramai terdengar. Ekspresi suka cita bagi mereka yang lulus dari ujian nasional sampai tangis duka karena harus menghadapi kenyataan bahwa mereka harus mengulang kembali ujian nasional di tahun yang akan datang menjadi headline news atau pokok pembicaraan di beberapa surat kabar beberapa pekan terakhir.

Mengutip dari sumber berita antaranews.com pada tanggal 13 Mei 2011 yang menyatakan angka kelulusan siswa SMA tahun ajaran 2010/2011 mencapai 99,22% meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Tentu saja hal ini menjadi suatu kebanggaan bagi kalangan pendidik di Indonesia.

Kenyataan ini berbanding terbalik dengan fakta yang ada, mulai dari kebocoran jawaban UN, adanya joki dalam pelaksanaan UN, sampai kerja sama antara guru pengawas dan pihak sekolah untuk meminimalisasi pengawasan secara ketat. Berdasarkan kenyataan tersebut, yang menjadi pertanyaan adalah apakah nilai yang diperoleh siswa murni atas hasil belajar ataukah ada bantuan dari pihak sekolah?

Menurut salah satu sumber yang berprofesi sebagai pendidik di salah satu SMA di Jakarta, dalam pelaksanaan UN ada campur tangan dari pihak sekolah. Bahkan, pihak sekolah sengaja memberikan kunci jawaban kepada siswa beberapa jam sebelum ujian berlangsung. Tentu saja hal ini tidak dapat berjalan sendiri tetapi ada kerja sama antarpengajar dari sekolah lain yang berperan sebagai guru pengawas sehingga pada saat ujian berlangsung, siswa tidak perlu khawatir bila ketahuan melihat kunci jawaban UN. Modusnya, guru-guru bidang studi yang diujikan, seperti mata pelajaran matematika, bahasa Inggris, dan sebagainya diminta datang lebih awal untuk menjawab soal-soal UN agar dapat membantu siswa dengan alasan menjaga nama baik sekolah dan rasa iba kepada siswa.

Seperti diketahui oleh kalangan pendidik pada umumnya bahwa pemerintah akan memberikan sanksi kepada sekolah yang memiliki tingkat kelulusan kurang dari 80% berupa teguran hingga penutupan sekolah. Meskipun demikian, kenyataan manipulasi UN sudah berulangkali terjadi tetapi belum terlihat tindakan tegas dari pemerintah. Bahkan, menurut penuturan guru-guru di salah satu SMA di Jakarta masalah kebocoran UN sudah membudaya bahkan sudah menjadi lingkaran sistem pendidikan. Maka, yang menjadi pertanyaan adalah apakah ini merupakan skenario dari pemerintah untuk meraup untung dari penyelenggaraan ujian nasional di setiap tahunnya ataukah sikap pendidik yang tidak lagi mencerminkan perilaku yang mulia sebagai seorang pendidik?

Tidak heran apabila moral bangsa Indonesia merosot, bahkan sumber daya manusia Indonesia lemah. Lemah dalam mempertahankan sikap idealisme. Hal ini disebabkan anak bangsa sudah diajarkan perilaku yang tidak beretika sejak dini, sejak mereka mendapatkan pengajaran dari pihak pendidik yang seharusnya mendidik agar menjadi bangsa yang berkualitas baik kualitas sikap maupun perilaku. Akhirnya, budaya menyontek menjelma menjadi budaya korupsi yang kini menjadi penyakit nomor satu di Indonesia.

Selain itu, adanya kebebasan untuk menyebarluaskan kunci jawaban UN dari guru-guru terkait membuat 7 dari 10 pendidik bermalas-malasan ketika mengajar. Hal itu sesuai dengan kenyataan adanya kelas yang kosong karena guru yang seharusnya mengajar tidak hadir dengan alasan sakit ataupun jenuh dengan kondisi kelas yang berisik.

Bukankah sudah menjadi tanggung jawab pendidik untuk membina, mendidik, dan mengajar bukan dari segi kuantitasnya saja tetapi juga dari segi kulaitas sikap dan kepribadian. Contohnya saja, SMP Labschool mendapat penghargaan dari presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena menerapkan pendidikan karakter. Seperti yang diketahui dari seorang peneliti, dalam 40 jam selama 3 tahun siswa sekolah diharuskan melaporkan kegiatan pengabdian masyarakat yang akan memengaruhi kelulusan mereka. Jika budaya akhlakul karimah sudah benar-benar diterapkan di seluruh lembaga pendidikan—bukan hanya sebagai visi dan misi belaka—maka, tidak akan ada mafia-mafia hukum ataupun mafia pajak karena sejak dini siswa diajarkan berperilaku mulia.

Budaya akhlakul karimah yang diterapkan dalam pendidikan karakter sesuai dengan pemaparan pakar pendidikan, Arif Rahman bahwa tolak ukur keberhasilan pendidikan tidak hanya dari segi kognitif tetapi juga dari segi afektif dan psikomotorik sehingga tidak hanya terjadi transfer knowledge tetapi juga transfer value dan skill. Oleh sebab itu, budaya jujur ketika ujian nasional ataupun tes-tes formatif dan sumatif lainnya yang menjadi kunci penilaian harus diterapkan secara berkesinambungan karena akan memengaruhi karakter siswa ke depannya.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s