Kisruh Pemilihan Ketua PSSI

Dunia persepakbolaan Tanah Air saat ini tengah didera konflik. Ketua Umum PSSI Nurdin Halid dituntut mundur oleh ribuan pecinta sepakbola di Tanah Air. Aksi penolakan pun digelar hingga pelosok daerah.

Nurdin dinilai tak layak lagi menjabat sebagai Ketua PSSI karena prestasi sepakbola nasional tak kunjung membaik. Selain itu, Nurdin sudah menjabat selama dua periode atau sepuluh tahun.
Ada dan tidak adanya Nurdin Halid tak menjamin Kongres Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) berlangsung lancar. Meski Komite Normalisasi (KN) telah dibentuk, kisruh tetap saja terjadi. Kekisruhan yang terjadi hingga saat ini layaknya sebuah cerita berepisode dan risikonya Indonesia mendapat sanksi.

Kongres PSSI yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta, mengalami deadlock atau kebuntuan dan Ketua Komite Normalisasi Agum Gumelar terpaksa mengakhiri sidang tanpa hasil. Peserta kongres berputar-putar dalam masalah larangan Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) terhadap George Toisutta dan Arifin Panigoro (GT-AP).

Kongres yang sedianya menghasilkan ketua umum, wakil ketua umum, dan Komite Eksekutif untuk periode 2011-2015 ini berujung ricuh. FIFA sejatinya membentuk KN untuk membangun kembali induk sepak bola nasional (PSSI).FIFA berprinsip, siapa pun yang berada dalam lingkaran LPI dilarang menjadi kandidat. Mengenai George, FIFA juga berpendapat sama: memecah belah PSSI. Renegass sadar ada sebagian peserta yang kecewa karena kandidatnya digugurkan, tapi induk organisasi sepak bola sedunia itu mendesak agar kongres ini berjalan sesuai agenda.Dengan ditutupnya kongres, PSSI terancam sanksi FIFA karena batas waktu menyelesaikan kemelut PSSI tidak boleh lewat dari 20 Mei 2011. Ini artinya sanksi larangan berlaga pada kompetisi di bawah FIFA dan AFC sudah di depan mata. Termasuk di antaranya berlaga pada babak kualifikasi Piala Dunia 2014.

Kisruh dalam Kongres PSSI bukanlah kali pertama. Perjalanan panjang yang katanya untuk reformasi di tubuh PSSI kerap menghadapi hambatan.

Kongres ini memang merupakan pemilihan pertama yang dilakukan PSSI setelah berakhirnya kepemimpinan Nurdin Halid. Namun lagi-lagi, kongres berlangsung ricuh. Berbagai kontroversi memang telah mendahului penyelenggaraan kongres ini seperti desakan mundur Nurdin Halid. Tapi, siapa menyangka penyelenggaraan kongres demi mendapat ketua umum yang baru tidak sesuai harapan.IFA Tolak Empat Calon

Ternyata, kabar mengejutkan kembali datang dari FIFA. Ternyata bukan hanya Nurdin Halid yang tak direstui untuk menjadi Ketua Umum PSSI. FIFA juga menetapkan tiga kandidat lain untuk juga tidak mengikuti proses pemilihan. Mereka adalah KSAD Jenderal TNI George Toisutta, Arifin Panigoro, dan Nirwan D. Bakrie.

Meski nama George dan Arifin didaftarkan dalam pencalonan, keduanya ditolak Komite Normalisasi. Dari 18 nama yang lolos menjadi calon, tidak terdapat George dan Arifin. Dari sejumlah nama itu, Sutiyoso, Erwin Aksa, dan Gusman Effendi yang diunggulkan.

Padahal sebelumnya Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie merupakan dua calon yang sudah dinyatakan lulus verifikasi oleh Komite Pemilihan PSSI. Sedangkan Arifin dan George diputuskan tak lolos. Mereka lalu mengajukan banding, tapi ditolak oleh Komite Banding, yang juga memutuskan untuk menganulir keputusan Komite Pemilihan yang telah meloloskan Nurdin dan Nirwan. Alhasil, secara formal, keempat calon dinyatakan gugur.Komite Normalisasi pada 29 April lalu telah memutuskan menolak atau menggugurkan pencalonan George Toisutta, Arifin Panigoro, Nirwan D. Bakrie, dan Djoko Driyono untuk maju menjadi bakal calon ketua, wakil ketua dan anggota komite eksekutif PSSI periode 2011-2015.

Putusan ini merujuk keputusan FIFA pada 4 April dan 21 April 2011. FIFA melarang George Toisutta, Arifin Panigoro, Nirwan D. Bakrie, dan Nurdin Halid untuk mencalonkan diri di kongres PSSI. Sementara, Djoko Driyono yang masuk anggota Komite Normalisasi, sehingga tidak bisa diusulkan masuk bakal calon Exco PSSI periode mendatang.

Putusan kedua, Komite Normalisasi juga menolak atau menggugurkan pencalonan tujuh mantan anggota komite eksekutif (Exco) PSSI di era Nurdin Halid yang tidak kredibel lagi oleh FIFA. Tujuh nama itu adalah Bernard Limbong, Subardi, Ibnu Munzir, Muhammad Zein, Ferry Paulus, Mafirion, dan Togar Manahan Nero.Jika kisruh selalu mendera tubuh PSSI, bisa jadi FIFA memberikan sanksi kepada induk organisasi sepak bola nasional tersebut. Risiko terberat adalah Merah Putih dilarang tampil di ajang internasional. Tak hanya bagi tim nasional, klub dari yang senior hingga anak-anak bakal terkena dampaknya. Buntutnya, persepakbolaan Indonesia semakin terpuruk. Dan, episode kisruh di tubuh PSSI terus bergulir.(MEL/ANS/dari berbagai sumber)

Untuk memimpin Komite Normalisasi, FIFA saat itu menetapkan Agum Gumelar sebagai Ketua Dewan Kehormatan PSSI. Komite pimpinan Agum Gumelar ini akan menggantikan kepengurusan PSSI di bawah Nurdin Halid yang tidak diakui lagi oleh FIFA.

Surat penunjukan itu ditandatangani Sekretaris Jenderal FIFA Jerome Valcke dan keluar setelah Regenass mengadakan rapat dengan anggota Komite Eksekutif (Exco) FIFA. Menurut Agum, lewat keputusan resmi FIFA itu, Komite Normalisasi akan menggantikan pengurus PSSI hingga kongres pemilihan pengurus PSSI periode 2011-2015

Namun, sejumlah pihak menilai ada kalangan tertentu yang memiliki kepentingan dalam kisruh PSSI ini. Partai Golkar dan Demokrat dituding memiliki kepentingan besar dalam memontum ini. Setidaknya, itulah yang dilontarkan pengamat politik Fadjroel Racman.

“Partai Golkar ada dibelakang Nurdin Halid, dan Partai Demokrat dan pemerintah ada dibelakang Arifin Panigoro. Siapapun akhirnya yang menang, mereka tetap akan saling menggergaji,” ungkap Fadjroel kepada okezone, Jumat (25/2/2011).

Aktivis yang sempat mendekam di Nusa Kambangan pada zaman Orde Baru ini menilai, perebutan jabatan ketua PSSI akan menjadi tolak ukur bagi pemilu 2014 mendatang. Sebab, jabatan ketua umum PSSI memiliki pengaruh cukup besar.

“Sebagai pecinta sepakbola nasional, saya ingin yang menjadi ketua PSSI bukanlah keduanya (Nurdin dan Arifin), tetapi ada figur baru yang lebih faham tentang sepakbola. Hal ini agar sepakbola tidak dipolitisasi lagi,” tandasnya.

Dalam kisruh seperti ini, lanjutnya, dibutuhkan gerakan ketiga atau tokoh alternatif untuk menyelamatkan PSSI. Soal siapa orang yang dimaksud, Fadjroel menyerahkan kepada publik.

“IGK Manila juga bagus, atau siapa saja yang menjadi alternatif. Yang pasti jangan lagi sepakbola dipolitisasi,” tukasnya.

Pendapat

• Pendapat kami tentang artikel tersebut adalah : Kami tidak setuju dengan kisruh yang terjadi tersebut .

• Alasan :
Karena kisruh tersebut tidak perlu diperdebatkan secara umum seperti itu ,apalagi kisruh tersebut melibatkan anggota-anggota dewan perwakilan rakyat yang harusnya mengayomi rakyatnya. Dan rakyat pun mengetahui kisruh tersebut terjadi karena perebutan jabatan sebagai ketua PSSI ,yang notabene orang-orang membayangkan betapa derasnya keuangan yang mengalir untuk mengurus PSSI. Maka dari itu banyak pejabat-pejabat rakyat berebut ingin menjadi ketua PSSI dengan maksud yang tidak baik.

Tugas Artikel Bahasa Indonesia
Nama :
• Annisa Rizky Rachmiani
• Devi Fitria Sari
• abdurrahman
SMA Pusaka Nusantara 1 Jakarta

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s