Kebanjiran Buncis

Sepasang kaki melangkah mengelilingi kami yang sedang asyik bersantap ria. Langkahnya semakin dekat mengarah kami diiringi senyum manis  ala Rifki, siswa kelas 4 (Imam Abu Dawud).

“Teman-teman … sayur buncisnya yang nggak dimakan, buat Rifki aja yaa soalnya buat lauk di rumah!” seru Rifki.

Setelah kami menoleh ke arah Rifki, “Wow!” betapa takjubnya kami melihat kedua tangannya dipenuhi beberapa bungkus sayur buncis yang ia kumpulkan dari teman-temannya.

“Teman-teman, ayo kita berbagi dengan Rifki ya! Tapi sebelumnya Ibu mau tanya, siapa yang doyan buncis?” tanya Bu Guru.

“Saya Bu … saya Bu ….” sahut beberapa siswa yang bisa dihitung dengan jari.

“Terus, ada yang nggak doyan buncis?” tanya Bu Guru.

“Saya Bu … saya Bu!” sahut mereka bergantian dengan penuh semangat.

“Mengapa kalian tiadak mau makan Buncis?” tanya Bu Guru penasaran.

“Kenyang … Bu!” seru mereka

Nggak enak Bu!” seru yang lain.

Bu Guru pun melihat mereka satu persatu lalu dijumpainya wajah tampan yang dihiasi peci kuning, Umarlah namanya yang  sedang asyik makan sayur buncis dengan lahap

“Anak-anak, coba perhatikan Umar dech!” pinta Bu Guru.

Serentak mereka menoleh ke arah Umar.

“Umar dari tadi Ibu perhatikan gadoin buncis terus, pantas dia pintar,” kata Bu Guru memancing ekspresi siswa-siswanya.

“Coba ada yang tahu nggak manfaat  buncis?”  tanya  Bu Guru.

“Ada  vitaminnya,  Bu,” jawab Fauzan penuh semangat.

Bikin  sehat  dan kuat,  Bu,” jawab Asep tidak mau kalah.

“Wah, benar sekali jawaban kalian, Nak!”  kata Bu Guru dengan          takjub.

“Oia, yaa Ibu teringat dengan Rifki, siapa yang mau menyumbangkan buncis buat Rifki?” tanya Bu Guru.

“Saya … Bu!” jawab beberapa  siswa serentak. “Ini buat  kamu,  Rifki,” sodor  Zuhria.

“Terima  kasih teman-teman,” kata  Rifki dengan  wajah penuh kegembiraan.

“Wah, Rifki kebanjiran Buncis!”  teriak Asep.

“Wah, Rifki  banyak sekali buncismu. Sekarang  apa yang kurang yaa,”  pancing Bu  Guru agar siswanya berpikir mencari solusi.

“Plastik Bu … buat naro  buncis,”  jawab Rifki dengan semangat.

“Tuh kamu tahu,  coba kamu tolong cari plastik dulu ya, tanya sama Pak Isnen.”

“Baik Bu,”  jawab Rifki

Itulah sekelumit  percakapan  siswa kelas 4   yang penuh       dengan perbedaan karakter. Semoga  Allah SWT menjadikan mereka calon generasi  yang senantiasa  menegakkan panji-panji Allah.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s